November – Sebuah Pertemuan

Barangkali pemandangan paling menarik di dunia bukanlah hamparan rumput ataupun deburan ombak di tepi pantai, melainkan hiruk pikuknya suasana di terminal, bandara atau stasiun kereta. Interaksi yang terjadi di dalamnya memadukan rasa pedih akan perpisahan serta kebahagiaan akan pertemuan. Namun kali ini, berdirinya aku di tepi tempat pemberhentian kereta bukanlah keduanya. Aku tidak sedang meninggalkan maupun menunggu untuk bertemu siapa pun.

Dari ujung stasiun suara gemuruh kereta yang mendekat memecahkan perhatian setiap orang yang berada di sekitarnya. Suara seorang wanita yang mengumumkan kedatangan kereta jurusan Surabaya petang itu mengantar langkah kakiku untuk segera masuk ke dalamnya. Tiket yang masih terlipat rapi di dalam saku celanaku itu aku raih untuk mengetahui nomor tempat dudukku. Kelas ekonomi yang aku pilih ini memang mengharuskan penumpangnya untuk duduk berhadapan dengan penumpang lainnya, sehingga tidak mengherankan jika aku sudah menemukan orang lain duduk di hadapan tempat dudukku.

Aku tidak terlalu memperhatikan sosok yang duduk di hadapanku itu ketika aku sibuk menata satu-satunya barang bawaanku yaitu tas ransel di bagian atas tempat duduk. Yang aku tahu dia adalah seorang wanita. Wajahnya tertutup sebuah buku dengan judul ‘Kafka on The Shore” oleh Haruhi Murakami di bagian sampulnya.

Aku yang tidak berniat untuk menyapa wanita itu kemudian memilih untuk membuka ponsel dan melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul lima lebih empat puluh lima menit. Perhatianku kemudian tercuri pada langit berwarna lembayung yang menghampar ketika kereta sudah mulai berjalan meninggalkan stasiun Solo Balapan. Ini adalah bulan November dan senja pertama yang aku lihat, sejak hujan tak henti-hentinya menggempur bumi dalam bulan ini.

Selang beberapa menit setelah kereta berjalan, petugas kereta mulai berkeliling untuk memeriksa tiket penumpang. Dan ketika petugas itu berhenti di samping tempat dudukku, hal pertama yang aku lakukan justru memandang wajah wanita di hadapanku yang kini meletakkan bukunya di atas paha dan menyerahkan tiketnya pada petugas. Sadar bahwa ia sedang diperhatikan, wanita itu ikut memandangku. Kedua alis yang terbingkai rapi di wajahnya menyatu dan membuat dahinya berkerut. Wanita yang usianya hanya terpaut satu tahun lebih muda dariku itu baru saja mengenaliku—atau kami yang mengenali wajah satu sama lain pada akhirnya.

“Mas Septa?” Wanita dengan suara dalam itu memastikan bahwa ingatannya tidak salah atau barangkali itu adalah caranya untuk menyapa seseorang yang sudah lama tidak ia temui.

Sambil meraih kembali tiketku yang diserahkan petugas, aku berusaha mengangguk dan menarik kedua sudut bibirku untuk tersenyum. Canggung memang, tapi aku tidak pernah bersiap untuk bertemu dengannya lagi dalam keadaan seperti ini.

Namanya Fitri Kumalasari. Aku lebih sering memanggilnya Mala daripada Fitri, nama depannya. Terakhir kali melihatnya, rambut Mala masih sebahu, dengan kulit sawo matang dan bibir tipis pucat tanpa sapuan pewarna apapun. Kini rambutnya panjang hingga sebatas dada, kulitnya putih dengan sentuhan make up pada wajahnya. Dan bukannya menyalahkan waktu karena terus berjalan, aku justru merutuki diri sendiri karena membuat perbandingan itu.

“Pulang kampung?” Tanyaku sekenanya sambil menelan ludah. Ada begitu banyak pertanyaan yang bermunculan untuknya, tapi hanya pertanyaan itu yang sanggup terselip dari lidah ini.

Mala mengangguk. Tangan kanannya terangkat dan menyingkap rambutnya yang menggelitik pipinya. “Mas Septa mau pulang juga?”

Nengok orang tua. Udah selesai kuliahnya?”

Kali ini Mala tersenyum sambil mengangguk untuk menanggapi pertanyaanku. Masih ada sekitar empat jam sebelum kereta berhenti di Stasiun Pasar Turi dan basa-basi kami sudah berakhir begitu saja.

.

.

Barang kali akan banyak obrolan yang menemani perjalanan petang ini jika saja dulu kami tetap menjadi teman satu kampung dan satu sekolah, bukannya menjadi sepasang kekasih. Entah takdir hanya sedang ingin membagikan kenangan pada laki-laki ini, atau ia memang berniat untuk menggoda ketetapan hatiku.

Mala mengangkat kembali bukunya dan tenggelam dalam entah cerita apa yang penulisnya tuangkan. Sementara aku menengok ke arah jendela yang kini menampilkan warna langit yang menggelap. Suara deru kereta dan desis dari percakapan penumpang lain membawaku pada kenangan enam tahun silam saat aku dan Mala tidak secanggung ini.

Mala adalah salah satu gadis yang aku pacari ketika SMA. Ku ceritakan salah satu karena aku juga pernah berpacaran dengan gadis lain sebelumnya. Barangkali aku masih terdengar muda dan naif jika mengatakan bahwa bahkan setelah usiaku dua puluh delapan tahun, Mala adalah gadis paling istimewa yang pernah aku temui. Yang membuatku tertarik padanya dulu adalah bagaimana ia begitu keras kepala dengan apa yang ia percayai dan memegang teguh pendapat yang ia anggap benar. Mungkin juga karena bagaimana caranya mencintai aku, berbeda dengan gadis-gadis lainnya. Sayangnya kami harus menyerah pada jarak ketika aku memilih untuk kuliah di Solo dan Mala di Jogja. Awalnya kami mengira jarak adalah ujian yang begitu mudah kami lewati dalam hubungan ini, nyatanya justru membuat kami saling menyakiti satu sama lain. Kami memutuskan hubungan melalui sambungan telepon dan sejak saat itu aku tidak pernah melihat Mala, bahkan ketika aku pulang kampung ke Surabaya.

Ngelamun aja, Mas.” Ucap Mala membuyarkan sihir yang sedari tadi membuatku tenggelam dalam pikiranku sendiri dan tidak menyadari keadaan di sekitar.

Mala meletakkan satu cup kopi di sisi jendela di hadapanku sementara ia sendiri menangkupkan kedua tangannya pada cup kopi miliknya. Laju kereta membuat cup itu bergetar. Entah kapan Mala beranjak dari tempatnya dan membeli kopi itu, tapi aku segera meraihnya demi mengikis rasa canggung di antara kami berdua. Setidaknya Mala tidak berniat untuk pura-pura tidak mengenal aku selama sisa perjalanan ini.

Namun lagi-lagi aku tidak bisa membangun obrolan dengannya. Entah karena memang tidak ada yang dibicarakan atau aku yang tidak pandai merangkai basa-basi di hadapan Mala.

“Kerja di mana sekarang, Mas?” Mala yang sudah menutup bukunya kemudian membuka suara.

“Aku di Hotel sekarang.” Jawabku sambil menyesap pahitnya rasa kopi dari cup itu.

Mala meletakkan kopinya yang masih separuh dan meraih tasnya.

“Lagi liburan?” Tanyaku ketika Mala terlihat sedang sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.

“Nggak, sih. Aku sekarang kerjanya di Surabaya. Kemarin abis ketemu sama temen-temen kuliah aja.” Jelasnya sambil tetap meletakkan tangan kanannya di dalam tas.

Laju kereta melambat ketika sampai di Madiun dan berhenti di Stasiun. Mala akhirnya mengeluarkan tangannya dari dalam tas bersama sebuah amplop berwarna emas ketika penumpang yang akan turun dan baru saja naik sibuk berlalu-lalang di samping kami.

“Oh iya, Mas, mumpung ketemu. Bulan depan aku menikah. Mas Septa kalau ada waktu dateng, ya.” Mala mengulurkan amplop itu padaku.

Kami berpisah baik-baik sebelumnya, kami sepakat untuk tidak membenci satu sama lain setelah putus, tapi hal itu juga tidak kemudian menjadikan kami teman setelahnya.

Undangan ini tidak bernama untuk siapa dan pertemuan ini tidak disengaja. Barangkali Mala telah menimbang-nimbang sejak tadi untuk memberikan undangan padaku atau tidak. Namun apakah Mala juga sempat memikirkan aku atau hubungan kami sebelumnya seperti aku?

Begitu pintu gerbong tertutup, seseorang wanita duduk di samping Mala dan mengajaknya berbasa-basi mengenai keadaan Stasiun yang kotor setelah hujan turun, membuatku kehilangan kesempatan untuk menolak undangan pernikahan Mala padaku secara langsung.

Aku tidak sakit hati pada Mala yang menikah terlebih dulu, atau pada caranya yang mengundangku seperti ini. Aku justru merasa terkhianati pada takdir akan pertemuan singkat ini. Bagaimana ia dengan cara mengejutkan membangunkan kenangan yang sudah lama tidak muncul di kepalaku untuk kemudian memelintirku dengan kenyataan pahit.

Ini adalah bulan November ketika kereta berhenti di Stasiun Pasar Turi dan hujan turun dengan derasnya.

-TAMAT-

My very first straight story in years. Belps!

.kurntia.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *