GENERATION GAP – Ketika Mauku dan Mau Mereka Tak Lagi Sama

Adakah yang merasa akhir-akhir ini ‘tidak nyambung’ dengan orang tua sendiri? Saya sedang mengalami hal ini sejak sekitar dua tahun yang lalu. Semua berawal saat saya berada di penghujung masa studi saya sebagai mahasiswa. Bermodalkan kemampuan Bahasa Inggris yang sesungguhnya biasa aja, saya mulai cari duit sebagai penulis konten website berbahasa Inggris sejak tahun kedua kuliah dan berlanjut sampai masa akhir studi saya. Selain ituberkat bakat saya memprediksi soal – soal TOEFL, saya juga beberapa kali diminta nemenin belajar buat persiapan tes TOEFL. Dan saya juga menyediakan diri untuk menemani teman – teman yang mau belajar speaking. Taukan ya, mencari partner untuk melancarkan speaking itu ndak gampang bahkan buat anak fakultas sastra Inggris sekalipun. Maka saya memaksimalkan potensi yang saya punya. Ya itung – itung belajar juga buat sayanya, biar Bahasa Inggrisnya nggak menguap.

Ketidaknyambungan itu makin terasa dalam satu tahun terakhir ini. Saya memiliki satu kesulitan cukup besar yaitu saya kesulitan menjelaskan apa pekerjaan saya. Saat ini pekerjaan utama saya adalah penulis lepas untuk situs online. Terkadang saya juga mengambil pekerjaan tambahan untuk  sebagai penerjemah, ataupun pengajar bahasa Inggris saat luang atau saat darurat.

Unfortunately, apa yang saya lakukan ini susah dipahami sama orang tua saya. Ya saya paham sih, mereka kesulitan menerima dan memahami karena internet dan cyber community life is never be part of their life. Ibu saya aja baru aja pake whatsapp berapa bulan belakangan ini, bapak saya udah duluan pake tapi ya tetep aja nggak seintens saya yang hidup kesehariannya nggak bisa lagi dipisahkan lagi dari penggunaan internet. Maka membayangkan bahwa saya dapat hidup dari komunitas dunia maya ini sulit bagi mereka. Alhasil, apa yang saya lakukan selama ini bisa dibilang tidak dianggap serius oleh orang tua saya. Maksudnya mereka tetap berharap bahwa suatu saat saya bertobat dan mulai ngelamar jadi PNS atau di kantor – kantor mentereng lainnya. Bukan salah mereka sih kalau menurut mereka pekerjaan yang menjamin bagi anak perempuan adalah kalau nggak jadi guru ya jadi pegawai bank atau apesnya ya jadi mbak mbak kantoran yang tiap pagi berpakaian necis rapi dilengkapi sepatu hak tinggi. Sayangnya saya ndak tertarik untuk model pekerjaan itu. Saya terlanjur jatuh cinta pada cerita dan kata-kata, dan saya memilih menulis sebagai cara saya bertahan hidup.

Dalam menghidupi pilihan hidup saya, supaya suatu saat nanti orang tua saya bisa paham dan melihat apa yang menjadi mimpi saya, kerapkali saya mengalami pengalaman kurang menyenangkan semacam ditipu – bayaran yang dikasih nggak sesuai sama kesepakatan awal -, project tiba-tiba diberhentiin sama klien, sampe dibayar 2M. Wait 2M serius lu Gen? Iya 2M alias (Makasih Mbak) pernah saya alamin. Do all of it make me want to quit the path? NO. Not at all. Percayalah, pas ‘ngalamin semua kejadian diatas yang terjadi nggak cuma 1-2 kali, sayapun merasa patah hati, marah, jengkel, pingin maki-maki klien, dan semacamnya. Tapi beberapa saat kemudian hati ini udah mantap buat bangkit dan belajar lagi. Macam memberi kesempatan kedua pada yang tak setia. Percayalah gara-gara kejadian-kejadian nggak enak di atas saya jadi belajar buat bikin yang namanya kontrak kerja sederhana tiap kali ambil kerjaan, belajar apa-apa aja yang harus ada dan disepakati dan paling penting DITULIS dalam kontrak kerja tsb.

Tanggapan orang tua saya sendiri pas saya lagi apes gitu? Ya tentu saja mereka akan makin kuat ngomporin buat cepetan cari kerja yang bener. Untungnya mereka denger cerita apes saya pas ceritanya udah basi. Pas saya udah bisa ngetawain kisah pedih itu, jadi saya udah punya kekuatan buat ngeyel lagi ke mereka kalo saya tetep mau kerja model begini. Walaupun sampe sekarang mereka masih getol nyari info lowongan PNS buat anak perempuan tertuanya ini.

Ada nggak sih yang ngalamin hal sama, ‘kurang nyambung’ sama ortu sendiri? Share dong.

Kecup Mesra,

Mbak – mbak yang suka ngebantah orang tua

Please follow and like us:
error

One thought on “GENERATION GAP – Ketika Mauku dan Mau Mereka Tak Lagi Sama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *