The Life of a Bachelor of Arts – Mengenang 30 April 2016

Hari ini dua tahun lalu, saya berkesempatan untuk memakai jubah ala Harry Potter demi satu momen bernama wisuda. Saya menyebutnya suatu selebrasi yang ditandai dengan dipindahnya pita di topi sarjana dari kiri ke kanan. Serta bertambahnya nama saya dengan akhiran S.S. di belakang.

You may wonder and ask me a question “How does it feel to be a bachelor? and work, and bla bla bla, udah punya tabungan berapa? udah punya aset apa aja? Udah punya calon suami belom? Mau nikah kapan? Sampe mau mati kapan?”

Jujur ya, saya ngerasa dua tahun macam saya belum ngapa – ngapain if I measure what I do based on the material I gained. Saya belum bisa beli apa-apa. Laptop rusak aja minta sama abang.

Tapi saya bersyukur banget karena selama saya kuliah saya diajari suatu paradigma baru bahwa kuliah itu bukan buat cari kerja. Kuliah itu ya karena mau belajar. Emang sih, kerja butuh kualifikasi pendidikan tertentu, tapi itu bukan tujuan utama kuliah (seharusnya). Kuliahlah karena kamu ingin belajar. Titik.

Karena paradigma baru ini saya jadi bisa menghibur diri tiap kali ditanya “Udah bisa beli apa aja?” Temans, saya belum bisa beli apa-apa. Tapi paling nggak saya bisa jadi orang yang merdeka. Yang berani berseberangan dengan kebanyakan orang, yang mencari apa yang membuat saya bahagia dan hidup terlebih dulu. Yang nggak ragu menangis atau patah hati saat hidup mematahkan harapan dan rencana.

Saya takjub saat saya merasa hidup saya serasa ‘gitu-gitu aja’ setiap hari tapi pas liat ke belakang ternyata saya bergerak, berjalan ke depan, walau kadang kesandung bahkan jatuh tersungkur, dan saya ada di titik yang cukup jauh dibandingkan posisi saya beberapa tahun lalu.

Pendidikan itu membebaskan dan memerdekakan. Harusnya.

 

 

Kecup Mesra

Mbak – Mbak Sarjana Sastra Bermuka Mahasiswa

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *