Tentang Harapan Orang Indonesia dan Perilakunya yang Nggak Pernah Sinkron

“Orang Indonesia mah pingin transportasi umum maju tapi nggak mau pake angkutan umum. Pingin telekomunikasi maju, tapi suruh registrasi SIM card kagak mau.”

 

Dua minggu yang lalu, saya nemu status Whatsapp seorang temen yang isinya tentang aturan registrasi kartu SIM yang harus pakai KTP. Statusnya kayak yang saya capture di bawah ini.

photo_2018-05-03_12-57-01

Yang menarik buat saya dari status WA tersebut adalah informasi tambahan di bawahnya itu sih “Bukan Aturan Konter tapi Aturan 2 Orang Ini” jujur aja perasaan saya waktu liat flyer ini adalah kasihan. Kasihan sama yang bikin. Jadi keliatan kurang piknik sama kurang Googling begitu. Coba kalo dia mau Googling dikiiiiiiit aja, tentang aturan kepemilikan SIM card di negara lain. It requires legal ID you know. Even for tourist.

Saya pribadi walaupun ngomel dan kesel dengan aturan baru ini, karena sebelumnya saya termasuk orang yang beli SIM card sekali pakai buat paket internet. Tapi ya terima aja karena saya mau dukung pemerintah saya untuk ‘ngewujudin masyarakat yang lebih tertib.

Saya tahu kabar registrasi SIM card ini dari provider seluler saya, dan saya langsung daftarin nomor saya. Gampangkah? Nggak juga sih. Entah kenapa nomor saya nggak bisa langsung terdaftar. Mungkin karena saya registrasinya masih awal banget trus sistemnya Kominfo juga masih trial and error gitu. Jadi saya mesti googling, cek sana sini demi memastikan kalo nomor telepon saya aman. Ribet? Iya. Tapi nggak susah. Cuma butuh Googling dikit, baca-baca, terus cek.

Selain kasihan sebenernya saya juga sedih pas liat flyer ini. Sedih karena saya tahu orang yang membuat (Memfoto dan meng-upload ke WA status sih at least) adalah orang yang berpendidikan tinggi. Seorang sarjana rek. Bayangpun mahal-mahal kuliah tapi masalah yang perlu secuil nalar kayak gini aja luput. Sedih saya.

Obrolan tentang aturan registrasi SIM card ini berlanjut dengan seorang teman yang bekerja di provider seluler. Dia mengeluh karena mendekati batas akhir registrasi dia harus bekerja lembur. Bahkan tetap masuk kerja pada akhir pekan. Demi semua orang terlayani. Temen saya inipun mengeluh kalo banyak banget orang yang registrasi menjelang batas akhir atau orang yang datang karena kartunya udah kena blokir gelombang pertama. Belum lagi keluhan kalau registrasi ini ribet, nggak praktis, bahkan sampai ada isu murahan kalo nanti datanya bakal dijual ke Cina pas pilpres. Ya salam. Mbok ya nalare dipake sekaliiiiii aja. I wonder if they have any.

Ya kalo tiap pemerintah keluarin kebijakan baru selalu ditolak sampe demo, kapan negri ini mau maju dan teratur? Lha orang – orangnya aja nggak mau diatur. Mau nunggu beneran hancur dulu baru sadar dan kemudian nyesel? Saya sih nggak. Keraguan kalo system registrasi ini bakal beneran efektif emang ada (just like the e-ktp one) tapi saya mau dukung pemerintah saya buat wujudin salah satu mimpi saya juga yaitu telekomunikasi yang teratur. Saya nggak mau nambah kesedihan negara saya dengan jadi warga negara yang nggak taat aturan. Negara saya udah terlalu banyak nangis untuk itu.

 

Kecup Mesra

Mbak – Mbak yang suka emosi liat banyak orang ‘ndak mau diurusi

Please follow and like us:
error

One thought on “Tentang Harapan Orang Indonesia dan Perilakunya yang Nggak Pernah Sinkron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *