A Tribute to Chester Bennington; (pernah) Nggak Sadar Lagi Bunuh Diri

Hari ini setahun yang lalu (20 Juli 2017), dunia geger karena frontman Linkin Park, Chester Bennington, meninggal karena bunuh diri. Beberapa hari kemudian gue bikin tulisan tentang Chester, dan kecenderungan gue buat bunuh diri yang baru selesai hari ini (20 Juli 2018). Tulisannya ada di bawah ini.

 

***

Beberapa waktu lalu saya terkejut mendengar kabar meninggalnya vokalis Linkin Park, Chester Bennington. Lebih terkejut lagi saat mengetahui penyebab meninggalnya rock star ini, bunuh diri. Sontak, media digital baik itu portal berita maupun beranda media social dibanjiri ucapan bela sungkawa. Tagar #RIPChester sempat menjadi trending topic di lini masa twitter waktu itu.

Hal menarik yang saya temukan adalah diantara ucapan duka cita yang mengalir deras di media social itu, terselip ungkapan kekecewaan, bahkan celaan betapa pengecutnya vokalis Linkin Park ini dalam menghadapi kehidupan. “Hanya” karena depresi, ia kemudian memutuskan mengakhiri hidup. Banyak pihak mengatakan “mengapa ia tidak bercerita pada sahabat atau orang terdekatnya tentang masalah besar yang dihadapinya saat ini,” keputusannya untuk mengakhiri hidupnya sangat disayangkan.

Saya pribadi sedikit bisa memahami keputusan yang diambil mendiang Chester. Beberapa bulan lalu saya mengalami frustrasi berkepanjangan. Frustrasinya sendiri terjadi akibat ulah saya sendiri sebenarnya. Berawal saat saya diterima sebagai digital content writer di salah satu laman interior design yang masih baru, saya tenggelam dalam pekerjaan saya. Sebuah usaha baru maka belum ada system yang rapi, semua serba seadanya. Maka tidak heran saya yang seharusnya ‘hanya’ menulis saja, juga ikut memikirkan hal lain seperti promosi digital. Saya menjalaninya dengan gembira waktu itu. Ya inilah risiko bekerja di perusahaan baru, apa-apanya belum jadi. Maka pekerjaan tak tertulis bagi setiap orang disana adalah ‘babat alas,’ membuat peluang supaya apa yang kami kerjakan dikenal orang banyak.

Pekerjaan ini (ditambah kegiatan lain di komunitas orang muda) ternyata menyeret saya pada gaya hidup bunuh diri, yang sialnya tidak saya sadari. Tidur pagi, 2-3 jam, bahkan pada waktu-waktu tertentu tidak tidur, demi mengerjakan ini itu urusan pekerjaan, makan tidak teratur, tidak merawat diri. Telat makan dan kurang istirahat bukan hal baru bagi saya. Maka saya merasa biasa saja, tidak sadar sedang berjalan menjemput kematian. Fisik maupun psikis.

Saat menyadari bahwa saya sedang berjalan menuju kematian, sulit rasanya untuk berputar arah. Gaya hidup ‘bunuh diri’ yang saya jalani telah membentuk suatu image bahwa Geny adalah seorang yang tekun dan pekerja keras. Orang yang pekerjaannya selalu beres, dan baik. Namun tidak pernah ada yang tahu bahwa saya membayar semua hal itu dengan nyawa saya sendiri. Ya tidak ada yang tahu apa yang saya alami. Tidak teman di kantor saya, maupun teman di komunitas. Maka saya pun tidak tahu harus membagi beban psikis saya pada siapa. Kalaupun ada beberapa orang yang bisa saya percaya, saya bingung harus memulai dari mana. Teman-teman saya bisa jadi tidak percaya jika saya mengatakan bahwa saya mengalami depresi dan nyaris bunuh diri.

Saya membayangkan wajah heran dan tidak percaya teman-teman saya. Bisa jadi ini hanya imajinasi saya. Namun inilah yang saya alami. Inilah ketakutan saya. Saat orang lain menemukan diri saya yang sebenarnya. Saya yang rapuh, berantakan, dan tidak sesempurna yang dikenal orang pada nampaknya. Namun jauh di dalam lubuk hati saya, saya rindu untuk diterima apa adanya. Saya ingin orang-orang di sekeliling saya tahu bahwa saya tidaklah sesempurna bayangan saya yang terlihat pada kebanyakan orang.

Masa kelam itu belumlah berakhir. Ada masanya kecenderungan ‘bunuh diri’ itu datang kembali. Saat tanda-tanda itu sudah mulai muncul saya berusaha keras untuk mengingatkan diri sendiri untuk merawat diri, beristirahat, dan makan cukup.

Dari kejadian yang terjadi pada Chester, saya pribadi hanya bisa berharap semoga masyarakat kita semakin ‘ramah’ saat menghadapi kasus bunuh diri. Orang yang bunuh diri sudah berjuang. Mungkin perjuangannya belum maksimal menurut kita, tetapi dia sudah berjuang. Dan saya percaya setiap perjuangan, sekecil dan sesepele apapun patut diapresiasi. Cukuplah dengan tidak menyalahkan, menghujat atau mengeluarkan kata-kata buruk. If you can’t say kind word, just remain silent.

 

Kecup Mesra,

Mbak – mbak yang berjuang untuk tetap “Hidup”

 

Gambar sampul diambil dari SINI

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *