Bagaimana jika, pada kehidupan lain, aku layak mendapatkanmu? [sebuah terjemahan]

Pada Mei 2012, Gaby Dunn menerbitkan sebuah tulisan di website Thought Catalog dengan judul “What if in another universe, I deserve you?”. Sebuah puisi, prosa, cerpen atau entah apapun itu, aku temukan pada pertengahan tahun 2017 silam. Pada detik itu juga, tulisan Gaby Dunn ini seperti mewakili beberapa bagian perasaan yang sedang aku rasakan. Terjemahan ini adalah bentuk apresiasi sekaligus rasa terima kasih pada penulisnya, dan tidak ada niat untuk mengubah isi atau bentuk tulisannya. Saya hanya seorang penggemar dan ingin membagikan tulisan Gaby Dunn agar dapat dinikmati orang lain yang belum cukup mengerti bahasa Inggris.

.

What if in another universe, I deserve you?

.

.

Bagaimana jika, pada kehidupan lain, aku layak mendapatkanmu?

.

Dengarkan aku. Pada tahun 1890, seorang filsuf bernama William James menciptakan sebuah teori tentang “multiverse” atau kehidupan berlapis yang menyatakan sebuah hipotesis bahwa beberapa kehidupan dapat terjadi secara bersamaan.

Apakah kamu masih mengikuti? Keseluruhan ruang, waktu, zat dan energi terjadi pada satu waktu dalam alur yang berbeda merupakan gagasan dari kehidupan paralel. Kamu mengerti, kan? Baiklah, mari kita anggap bahwa “multiverse” benar-benar nyata.

Maka bisa saja pada suatu tempat di antara kehidupan yang tak terhingga itu, ada satu, atau beberapa kehidupan, di mana aku layak mendapatkanmu.

Barangkali ada sebuah kehidupan di luar sana, yang sedang terjadi saat ini, di mana kita akhirnya bersama. Dan ketika aku memejamkan mata saat tidur, aku tidak bermimpi seperti orang normal biasanya. Aku justru melihat kilasan kehidupan kita pada “multiverse”. Itu bukan mimpi biasa karena aku merindukanmu, kan?

Contohnya saja:

Pada kehidupan ini, aku tidak menginginkan sebuah keluarga, tapi mungkin pada kehidupan lain, aku adalah seseorang yang ingin berkeluarga. Barangkali ada kehidupan di mana kamu menggenggam tanganku ketika aku melahirkan anak perempuan kita di sebuah ruangan rumah sakit yang dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna merah muda dan boneka beruang pada tepi jendela. Kehidupan di mana kita berlibur dan berfoto bersama di atas pasir pantai Florida dalam setelan bikini berwarna neon. Kehidupan di mana ketika anak-anak sudah terlelap, kita berdua akan bergelung bersama sambil menonton film romantis di dalam rumah setelah melewati hari yang panjang.

Barangkali ada sebuah kehidupan di mana kita sudah paruh baya dan sedang berdebat mengenai bagaimana anak kita menata kamarnya saat kuliah. Di mana kamu mengecup dahinya sebagai perpisahan sebelum kita beranjak pulang dengan kebanggaan di hati kita. Kamu menyentuh jemariku dan cincin pernikahan kita berkilauan. Kehidupan di mana rambut kita sudah beruban dan kita tertawa, tersenyum sambil menikmati limun di beranda.

Barangkali ada kehidupan lain di mana itulah hidup yang aku inginkan. Hidup di mana aku tidak perlu menduga-duga segalanya, di mana aku tidak perlu takut pada komitmen, masa depan, atau cinta. Mungkin ada kehidupan lain, tanpa suara-suara yang mengiang di kepalaku, atau tanpa kesombongan yang membuatku berjiwa bebas dan menginginkanmu.

Mungkin ada kehidupan lain di mana aku adalah orang yang tepat bagimu. Di mana aku mengagumi setiap hal baik yang kamu lakukan untukku, tanpa membuatku curiga padamu. Kehidupan di mana kamu akhirnya bersama seseorang yang menghargaimu dan tidak ada satu pun yang menjadi kosek kaki.

Kehidupan di mana kita bahagia –tanpa meragukan bahwa kebahagiaan itu adalah sebuah kekacauan yang siap untuk meledak kapan pun. Kehidupan di mana kita berdua yakin.

Mungkin ada kehidupan di mana kita berbaring berdampingan setiap malam seperti dua ekor kelinci –wajahku tenggelam di lehermu, memeluk setiap kehangatan—dan kita tidak menginginkan hal lain, atau orang lain. Kita hanya menginginkan satu sama lain dan tidak lebih.

Mungkin ada kehidupan di mana aku tidak perlu bertanya-tanya apakah aku harus berkemas dan pindah ke Jepang tanpa berpamitan pada siapa pun. Di mana aku tahu bahwa aku bisa selalu pulang dan memasak makan malam denganmu.

Jika kamu memikirkannya seperti itu, maka tidak ada satu pun dari kita yang salah.

Kamu hanya menemukanku pada kehidupan yang salah. Itu saja. Kehidupan ini, kata mereka, adalah garis waktu yang paling gelap.

Di mana pun—tidak—kapan pun, pada perang saudara, pada peradaban mesir kuno, atau pada tahun 60-an, kita sedang bahagia.

Dan jika teori ini benar, berdasarkan hukum keseimbangan, akan ada satu kehidupan –satu ini saja—di mana kita tidak bersama. Jika kamu berpikir seperti itu, maka itu bukan salah kita.

Lihat? Semuanya sudah jelas. Kita tidak lagi bersama karena adanya kehidupan berlapis. Bukankah hal itu menghibur?

Jika kamu bersedih, lakukanlah seperti yang aku lakukan dan pikirkan saja kehidupan yang lain. Kehidupan di mana aku percaya pada cinta dan tidak membenci diriku sendiri atau mengacaukan hubungan begitu saja. Kehidupan di mana kita hanya bisa memiliki hal-hal yang menyenangkan. Cukup membantu, kan?

Karena kamu bisa mencintaiku selamanya. Dan barangkali pada kehidupan lain, aku mengizinkanmu.

.kurntia.

Credits:

  • karya asli Gaby Dunn dapat dibaca di sini: https://thoughtcatalog.com/gaby-dunn/2012/05/maybe-in-another-universe-i-deserve-you/
  • Gambar ilustrasi oleh Google.
Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *