#CERBUNG : “EDEN” [BAG. I]

“EDEN”

Bagian I

Daun-daun Berguguran

 

Musim gugur tahun ini dimulai pada akhir bulan September. Hilir angin sisa musim semi menyerbak ke setiap sudut tempat, menyapu setiap jejak yang tak tersentuh sebelumnya. Daun-daun dari pohon Maple yang sebelumnya berwarna hijau kini mulai berubah kuning kecokelatan dan berjatuhan dari tangkainya. Jalanan yang sebelumnya seperti kanvas polos itu ikut menguning.

Kota itu terlihat lengang untuk seukuran ibu kota dari salah satu negara kapitalis terbesar di dunia, Korea Selatan. Julukan untuk kota tersibuk dan tidak pernah tidur ini barangkali tidak berlaku di bagian ini. Apalagi di jam di mana orang-orang seharusnya mulai beraktivitas, pagi ini tidak ada seorang pun yang duduk menunggu bis di halte, kecuali gadis itu.

Hari ini adalah hari pertama Kevin memasuki sekolah barunya setelah ia pindah dari Kanada minggu lalu. Sebelum keluar dari rumah tadi, Ibunya sudah memberikan petunjuk padanya untuk bis nomor saja yang harus ia tumpangi agar bisa sampai di sekolah barunya. Kevin yang pada bulan November mendatang akan berusia 17 tahun itu tidak tentunya sudah cukup dewasa untuk naik bis sendirian, atau datang ke sekolah barunya untuk pertama kali. Dengan mengenakan seragam berbentuk setelan jas berwarna hitam, celana senada dan kemeja berwarna biru, Kevin masih harus berjalan beberapa meter dari gedung apartemen yang ia tempati menuju halte bis.

Di halte itu, tidak ada orang lain yang sedang menunggu bis, selain seorang gadis dengan rambut hitam panjang tergerai dan headset terpasang di kedua telinganya. Gadis itu sedang memejamkan mata ketika Kevin mengambil tempat duduk di sampingnya. Angin musim gugur dan daun-daun yang diterbangkannya menjadi pemandangan di sekeliling mereka. Kevin beberapa kali melirik ke arah gadis itu dan berharap ia membuka matanya ketika pemuda itu menyadari bahwa gadis itu mengenakan seragam sekolah yang sama dengannya. Kevin bahkan sengaja berdehem beberapa kali untuk mengumumkan kehadirannya, tetapi gadis itu sama sekali tidak bergeming.

Setelah beberapa menit menunggu, bis yang dijadwalkan pada layar monitor akan tiba pada pukul 07.00 itu akhirnya datang tepat pada waktunya. Begitu pintunya terbuka otomatis, Kevin segera beranjak dari tempatnya duduk dan menaiki salah satu alat transportasi andalan di kota itu. Yang membuat Kevin tanpa sadar mengernyitkan dahinya adalah bahkan hingga pintu bis itu tertutup dan siap berangkat, gadis itu tidak juga membuka matanya. Kevin yang tidak biasanya peduli dengan urusan orang lain, entah kenapa merasa perlu untuk melakukan sesuatu.

“Tunggu.” Kevin menahan supir bis itu dan memintanya untuk membuka pintu kembali.

“Hei!” Panggil Kevin dari pintu bis pada gadis itu.

Beberapa penumpang bis memperhatikan mereka dari tempat duduknya.

“Hei!” Gadis itu sama sekali tidak bergerak.

Kevin merutuki dirinya sendiri dalam membuat keputusan ketika bis yang ditumpanginya segera melaju begitu ia turun dan berjalan menuju halte itu lagi. Ini sungguh bukan dirinya tapi Kevin juga tidak bisa mengacuhkan hati nuraninya yang memerintahkannya untuk membangunkan gadis itu. Bagaimana jika ia pingsan? Kevin menghela nafas panjang.

“Hei!” Panggil Kevin untuk ke sekian kali.

Pemuda itu sudah mengulurkan tangannya dan berniat untuk mengguncang tubuh gadis itu ketika akhirnya ia membuka matanya.

“Kau tidak pingsan?” Tanya Kevin.

Gadis itu melepaskan headsetnya dan mendengus ketika melihat Kevin berdiri di hadapannya.

“Kupikir benda ini cukup untuk mengusir orang pergi.” Gumam gadis itu pada dirinya sendiri.

“Ada apa?” Tanya Gadis itu pada Kevin.

Kevin pikir gadis itu pingsan atau tertidur atau mati di tempat duduknya tapi dia dengan entengnya bertanya ada apa?

“Tidak ada.” Kevin menelan kekesalannya pagi ini dan duduk kembali di tempat sebelumnya sambil menunggu bis selanjutnya.

Gadis itu menarik salah satu sudut bibirnya.

“Aku sepertinya sudah melihatmu naik ke bis tadi.”

Kevin tidak menyahut dan berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dari gadis itu.

“Bis selanjutnya akan datang 45 menit lagi. Waktu perjalanan menuju sekolah 25 menit dan jam pertama akan dimulai pada pukul 08.00. Kau akan terlambat 15 menit sebelum masuk ke kelas.” Jelas gadis itu ketika Kevin melirik arlojinya dan waktu sudah menunjukkan pukul 07.10.

Gadis itu menyibak rambutnya yang berhamburan menutupi sebagian wajahnya sebelum berdiri.

“Aku tidak berniat untuk berangkat ke sekolah hari ini, tapi aku akan mengantarmu ke sana dalam waktu yang lebih singkat.” Ucap gadis itu tanpa menunggu respons Kevin.

Ia juga tidak menengok ke belakang untuk memeriksa apakah Kevin mengikutinya atau tidak.

Musim gugur bukanlah musim favorit Kevin. Ia lebih menyukai musim panas atau musim semi di mana tidak ada angin yang membuat rambutnya berantakan, tidak ada daun-daun yang berjatuhan, atau gadis itu.

.

.

.

Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di sekolah baru Kevin menggunakan jalan yang gadis itu tunjukkan. Mereka berjalan kaki dari halte tadi dan melewati jalanan setapak yang ada di pinggiran taman. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, gadis itu segera berbalik dan berjalan menjauh setelah mereka sampai di depan gerbang sekolah.

“Tunggu.” Kevin menahan gadis itu.

Gadis itu berhenti tapi tidak menengok atau membalikkan badannya.

“Kau tidak masuk?” Tanya Kevin karena ia yakin gadis itu bersekolah di tempat yang sama dengannya.

Gadis itu tidak menjawab dan justru kembali berjalan. Rok selutut yang gadis itu kenakan bergoyang mengikuti langkah kakinya. Kali ini Kevin tidak menahannya. Ia tidak merasa tidak perlu melakukannya.

.

.

Kevin lahir di sebuah ibu kota provinsi di Guangzhou, Tiongkok. Ia terlahir dengan nama Li Jiaheng, sebuah nama yang diberikan Ayahnya. Ketika usianya dua tahun, namanya berubah menjadi Wu Yifan untuk mengikuti marga Ibunya setelah kedua orang tuanya bercerai. Di usianya yang ke tujuh, Ibunya menikah lagi dengan seorang laki-laki berkebangsaan Kanada dan mereka memboyongnya ke negeri Kanguru itu. Untuk mendaftar sekolah, ia berganti nama menjadi Kevin Wu dan nama itu ia gunakan hingga sekarang, meskipun Ibunya bercerai lagi dari pasangannya dan kini mereka tinggal di Korea Selatan.

.

BERSAMBUNG

Author’s note:

Cerita ini adalah remake dari sebuah cerita yang pernah saya buat sekitar dua tahun yang lalu. Saya menuliskannya lagi dengan beberapa perubahan dan karakter yang berbeda /ahem. Silahkan kirimkan komentar jika ada kritik, saran, atau sekadar feedback untuk cerita ini.

.kurntia.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *