#CERBUNG : “EDEN” [BAG. II]

“EDEN”

Bagian II

Senja Kala”

 

Di hari kedua Kevin seharusnya masuk sekolah, pagi itu hujan mengguyur dengan begitu derasnya hingga siapa pun akan berpikir beberapa kali untuk keluar rumah. Namun bagi pemuda bermata sipit itu, bahkan hujan atau panas terik di luar sana jauh lebih baik daripada tinggal di dalam rumah. Setidaknya ia bisa melihat hal-hal baru di luar, sendirian, dan ia juga tidak perlu berhadapan dengan Ibunya.

“Kau melewatkan sarapan lagi?” Tanya Nyonya Wu sambil menata peralatan makan di atas meja.

Kevin menghentikan langkahnya sejenak untuk mengambil payung sebelum bergumam pelan. “Aku akan langsung berangkat.”

Di hari pertama sekolahnya kemarin, Kevin yang masih harus banyak belajar bahasa dari negara yang ditempatinya kini, masih merasa canggung dan belum tertarik untuk menjalin pertemanan dengan siapa pun. Sebelum kedua orang tuanya bercerai di Kanada dulu, Kevin sempat curiga ketika Ibunya tiba-tiba memasukkannya ke sebuah tempat les bahasa Korea. Tapi Kevin yang saat itu tidak memiliki banyak pilihan hanya bisa menurutinya begitu saja.

Halte itu masih tetap sepi. Kevin yakin orang-orang akan lebih memilih naik taksi daripada harus menunggu di halte dalam keadaan hujan seperti ini. Tapi sepertinya, hal itu tidak berlaku untuk gadis yang kemarin mengantarkannya ke sekolah dengan berjalan kaki, ia masih tetap duduk di tempatnya yang sama, dengan seragam dan keadaan seperti sebelumnya. Kali ini gadis itu membuka matanya dan memperhatikan tetes-tetes air yang berjatuhan dari langit.

Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat untuk mengatasi kecanggungan. Baik Kevin atau gadis itu sepertinya sama-sama mengerti bahwa tidak semua ingin berbicara walau hanya sekadar basa-basi. Maka mereka berdua tetap diam sampai bis yang mereka tunggu datang.

Kevin melipat payungnya yang sudah sedikit kering dan segera naik ke bis. Pemuda itu menengok ke arah gadis yang ternyata tetap duduk di tempatnya. Namun kali ini Kevin tidak berbuat apapun, tidak juga memanggil atau mengajaknya berangkat. Ia memilih tempat duduk di dekat jendela. Matanya sesekali melirik pada gadis itu ketika bis mulai melaju ke tempat tujuannya.

.

.

Meskipun ia mengetahui kenyataan bahwa mereka berada di sekolah yang sama, tetapi Kevin tidak pernah menemukan gadis itu di sana. Satu hal yang ia perhatikan sejak ia masuk ke dalam kelas kemarin adalah bagaimana sebuah bangku kosong di sebelahnya terlihat begitu mengganggu. Bagaimana sebuah bangku bisa mengintimidasi dan mencuri fokusnya.

Selama di sekolah, Kevin sebisa mungkin membuat dirinya menjadi invisible atau ‘tidak terlihat’. Tapi dengan keadaan fisiknya yang mempunyai tinggi 188 cm dan alis hitam lebat membingkai wajahnya membuat hal itu sulit dilakukan. Saat istirahat atau ketika pelajaran usai, beberapa teman sekelasnya atau murid dari kelas lain akan membicarakannya, saling berbisik ketika melihatnya dan mengira bahwa Kevin tidak akan mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.

Sepulang sekolah, Kevin memutuskan untuk tidak naik bis dan mengulur waktu dengan berjalan kaki menuju rumah melewati jalan yang pernah gadis itu tunjukkan. Hujan telah mereda siang tadi, menyisakan daun-daun basah dan aroma tanah petang ini. Jalan setapak itu diiringi pepohonan yang menjulang tinggi dan semak-semak di sekitarnya. Taman kota yang berisi alat-alat olahraga, tempat bermain dan deretan kursi-kursi besi itu terlihat lengang. Kevin membenci takdir, dan kebetulan ini membuatnya kalut.

“Aku mulai berpikir kalau kau mengikutiku.” Ujar Kevin ketika ia sengaja menghampiri seseorang yang duduk di salah satu deretan kursi besi yang masih basah itu.

Gadis itu mendongak dan lagi-lagi ia mendengus.

“Pasti menyenangkan jika aku bisa mempunyai pola pikir seperti itu.” Kata gadis itu, salah satu sudut bibirnya naik.

“Lalu apa? Kita selalu bertemu di tempat-tempat ini adalah kebetulan?”

Kevin terlihat ragu sebentar ketika ia akhirnya duduk di samping gadis itu, membuat jarak setengah meter dan mengernyit ketika kursi besi itu membuat lembab celananya.

Gadis itu tidak menjawab. Keheningan menyelimuti mereka berdua dan hanya suara kendaraan dari jalan raya yang samar-samar menjadi latarnya. Warna langit yang semula putih kebiruan mulai menguning ketika senja menyala.

.

.

Park Yoora lahir dan tumbuh di Seoul, Korea Selatan. Saat ini usianya 17 tahun dan ia duduk di kelas 2 SMA. Setiap pagi, ia akan keluar rumah pukul 06.45 dan sampai di rumah lagi pukul 18.15 sore harinya. Mengenai apakah dia berangkat sekolah atau sampai di sana adalah cerita yang berbeda lagi.

“Wali kelas menelepon Ayah kalau kau sudah dua hari tidak masuk sekolah.” Adalah kalimat yang menyambutnya ketika Yoora duduk di meja makan.

Orang tua tunggalnya itu sudah menunggu dengan pandangan menyelidik. Entah kenapa jam makan malam sepertinya menurut laki-laki itu adalah waktu yang tepat untuk menginterogasi putri tunggalnya.

Yoora mengangguk.

Tuan Park, Ayah Yoora, mengeraskan rahangnya melihat jawaban putrinya.

“Sampai kapan kau akan menyiksa diri sendiri dan Ayahmu seperti ini?” Tanya Tuan Park.

Yoora memainkan sumpit di tangan kanannya. Andai ia punya jawabannya.

“Kau tetap mengonsumsi obatmu, kan?”

Yoora lagi-lagi mengangguk.

“Mungkin kita perlu menemui dokter lagi—“

“Tidak. Jangan.”

Tuan Park mengawasi Yoora yang tiba-tiba memotong pembicaraannya.

“Aku akan berusaha lebih keras lagi.” Lanjut gadis itu sebelum ia meletakkan sumpit di meja makan dan beranjak menuju kamar tidurnya.

Tuan Park menghela nafas.

.

.

Yoora sadar ketika semuanya mulai memburuk lagi. Rambutnya akan ia gerai tanpa disisir, pundaknya terasa berat dan dadanya sesak. Terkadang ia akan lupa hari apa atau tanggal berapa sekarang. Yang ingin ia lakukan hanyalah tinggal di kamar seharian tanpa melakukan apapun selain berbaring dan melihat ke langit-langit tempat tidurnya. Ia terkadang ingin bersedih, merasakan sakit, apapun, selain kehampaan ini.

Gadis berambut panjang itu menarik laci meja belajarnya, mengeluarkan sebuah kotak dan mengambil dua buah pil berwarna kuning. Rasa pahit kemudian menyebar ke seluruh sudut mulutnya ketika Yoora menelan kedua pil itu begitu saja. Ia akan baik-baik saja esok, atau esoknya lagi…

.

.

Kevin hampir terlambat hari ini. Ketika ia tiba di sekolah, waktu sudah menunjukkan pukul 07.55 dan ia hanya mempunyai waktu lima menit untuk sampai di kelasnya yang sudah dipenuhi murid-murid yang lain. Kedua mata pemuda itu sukses membulat ketika ia sampai di tempat duduknya dan mendapati bangku kosong di sampingnya sudah terisi. Si pemilik bangku kosong itu tak lain dan tak bukan adalah gadis berambut panjang yang sudah beberapa kali ia temui. Namun belum sempat Kevin menyatakan keterkejutannya, guru yang mengisi mata pelajaran di jam pertama sudah memasuki kelas. Gadis itu melirik sebentar ke arah Kevin sebelum ikut memberi salam pada guru seperti yang murid-murid lain lakukan.

.

.

Angin musim gugur masih berhembus dengan kencangnya, mengaburkan apapun yang sanggup diterpanya. Apalagi dengan ketinggian ini, Yoora bisa merasakan dengan jelas bagaimana angin musim gugur itu menyapu rambutnya, membuatnya beterbangan berantakan di sekitar kepalanya. Cairan panas meleleh dari sudut mata kiri gadis itu, kemudian menetes berjatuhan dari dagunya ketika ia melongok ke bawah. Pemandangan yang dilihat Yoora saat itu terlihat kabur, tidak hanya karena air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya, tetapi juga karena ia tengah berdiri di atas atap gedung sekolahnya yang berlantai lima. Yang terlintas di kepalanya pada saat itu adalah bagaimana ia telah sejak lama ingin menyerah, ingin merasakan sedikit rasa sakit itu dengan maju satu langkah. Ia kini berdiri di tepi, ketika telinganya menangkap suara pintu menuju atap itu terbuka.

Mungkin tidak sekarang…

Kevin muncul dari balik pintu itu sembari menenteng sebuah buku. Yoora mengerang dan mengutuk langit di atasnya. Sementara pemuda yang hendak menghabiskan waktu istirahatnya dengan membaca buku di atap sekolah itu termangu ketika melihat sosok gadis yang sudah tidak asing tengah berdiri di bagian tepi bangunan itu. Siapa saja yang melihat posisi gadis itu tidak akan menebak bahwa ia sedang bermain-main. Kevin sudah akan menghampiri gadis itu ketika Yoora memundurkan langkahnya. Ini bukan urusannya dan Kevin memutuskan untuk mengambil tempat duduk di ujung lain yang cukup teduh.

Pemuda itu sudah mulai membuka buku yang ia pinjam dari perpustakaan ketika sebuah suara tertangkap telinganya. Gadis itu sudah turun dari tepi atap gedung dan berjalan selama beberapa langkah.

“Aku mulai berpikir kalau kau mengikutiku.”

Kevin mendengus mendengar kalimat yang pernah ia ucapkan itu keluar dari mulut gadis berambut panjang.

“Pasti menyenangkan jika aku bisa mempunyai pola pikir seperti itu.” Balas Kevin ketika ia mengingat pernyataan gadis itu tempo hari.

Kevin samar-samar bisa melihat bahwa saat ini tidak hanya salah satu tetapi kedua sudut bibir gadis itu terangkat. Ia kemudian berjalan kembali, kali ini menghampiri Kevin.

Angin musim gugur membawa daun-daun kering di atap itu ketika si gadis berambut panjang mengulurkan tangannya.

“Ini adalah kebetulan. Aku Yoora.”

Kevin menyipitkan alisnya sebelum melakukan hal yang sama.

“Aku Kevin. Kau tadi tidak sedang berniat untuk bunuh diri, kan?”

.

.

Hatiku selembar daun, melayang jatuh di rumput. Nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini. Ada yang masih ingin ku pandang, yang selama ini luput. Sesaat adalah abadi, sebelum kau sapu taman setiap pagi.*)

 

BERSAMBUNG

*) Puisi “Hatiku Selembar Daun” oleh Sapardi Djoko Darmono.

.kurntia.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *