SINI DAN SANA – Sebuah Cerita tentang Sinyal Internet dan Listrik

Beberapa waktu lalu saya pulang ke rumah saya yang terletak 40 kilometer ke arah selatan kota kabupaten Wonogiri. Banyak menghabiskan waktu di kota Yogyakarta, hal yang paling membuat saya tidak betah di rumah sendiri adalah masalah sinyal internet.

Selama enam tahun terakhir saya menghabiskan banyak waktu di kota Yogyakarta. 3,5 tahun pertama untuk kuliah, dilanjutkan dengan bekerja. Selama di Yogya saya selalu dikelilingi dengan sinyal internet 4G, mentok-mentok 3G lah, itupun hanya terjadi karena cuaca yang buruk. Di rumah saya, sinyal internet paling bagus yang saya terima adalah H+. Bye bye streaming musik, dan youtube. Update instagram story sampai titik-titik. Di rumah saya, pesan WhatsApp terkirim aja syukur alhamdulilah.

Ya rumah saya dan kota Yogyakarta seperti dua dunia yang berbeda. Padahal jarak tempuh rumah saya dengan kota Yogyakarta hanyalah 3 jam, dengan menggunakan angkutan umum bus. Kalau mau memacu motor atau mancal gas mobil pribadi, waktu tempuh bisa lebih cepat. Sayangnya jarak geografis yang masih relatif dekat ini tidak membuat segala kondisi dan sarana prasarana relatif ‘dekat’ juga.

Sambil merutuki sinyal internet yang kacrut, saya teringat suatu percakapan dengan Topan, seorang kawan yang berasal dari Sintang, Kalimantan Barat. Topan bercerita kalau di kampungnya listrik belum bisa dinikmati selama 24 jam. Listrik hanya menyala di sore sampai malam hari. Siang hari tidak ada listrik. Kondisi ini masih berlangsung sampai hari ini. Suatu hari di tahun 2018.

Mendengar cerita ini, saya sesungguhnya agak tidak percaya. Masa iya sih di tahun 2018 ini di Sintang listrik belum nyala 24 jam. Mungkin kalau yang diceritakan daerah di Indonesia timur, saya masih mudah untuk menerima. Namun Kalimantan yang jaraknya masih relatif dekat dengan Jawa, dan beberapa kota besarnya yang dijadikan markas perusahaan pertambangan dan kelapa sawit membuat saya sulit mencerna informasi tentang listrik ini.

Angan saya terbang ke akhir 1999, saat itu keluarga saya mesti pindah dari Jakarta ke Wonogiri, karena Ibu saya sakit paru-paru dan diminta untuk mencari udara yang lebih bersih. Tahun 1999, listrik sudah melimpah ruah di kota Jakarta, namun di Wonogiri, rumah baru saya waktu itu, listrik belum masuk. Culture Shock pertama saya ya masalah listrik ini. Saya yang saban malam nongkrong di depan televisi, terlebih di hari Minggu pagi, tidak bisa melakukan kegiatan yang paling membahagiakan bagi saya waktu itu, nonton TV. Hari – hari pertama saya diwarnai dengan ajakan, yang berubah menjadi rengekan, dan berakhir dengan tangisan saya supaya kami pulang saja ke Jakarta. Selepas mandi sore sekitar jam 4/5, saya selalu lari ke jalan, memberhentikan mobil atau motor yang lewat, minta diantar pulang ke Jakarta.

Drama nyetop mobil/motor di sore hari ini berlangsung selama beberapa bulan, sampai awal tahun 2000. Saya baru berhenti saat listrik mulai masuk desa kami. Tentang pemasangan listrik sendiri tidak langsung semua rumah. Satu bulan hanya ada 2-4 instalasi listrik yang dipasang. Eyang kakung saya mesti menghadap ke pak Dukuh, supaya rumah kami bisa dipasangi listrik duluan.

Mengingat pengalaman saya ini, kemudian saya bisa menerima kalau memang di hari-hari ini masih ada saudara-saudara kita yang belum bisa menikmati listrik secara penuh. Bahkan belum menikmati listrik sama sekali. Saya yang brojol langsung disapa lampu listrik, ternyata 7 tahun kemudian menemui fakta bahwa rumah Eyang kakung saya belum kenalan sama listrik. Itu masih sama-sama pulau Jawa lho ya.

Mengetahui dan menyadari kondisi ini membuat saya malu saat saya terlalu mengeluh karena tidak mendapat sinyal internet yang lancar di rumah saya saat ini, karena di tempat lain, masih ada teman yang menikmati listrik hanya pada jam-jam tertentu saja.

 

Tulisan ini sudah tayang lebih dulu di SINI

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *