I am Taught to be Second Class Individual Forever and I Refuse It

Beberapa hari lalu, saya mendapat undangan untuk interview di Jakarta. Merasa berat untuk datang pada hari yang ditentukan, saya minta untuk penyesuaian jadwal. Saya pribadi merasa permintaan saya suatu hal yang biasa. Apalagi berpijak dari format pertanyaan yang digunakan yaitu, “Bisakah pada hari ini jam sekian datang ke kantor kami?” Buat saya tidak ada yang istimewa ketika saya menjawab, “Maaf pada hari tersebut saya tidak bisa. Bisakah jadwalnya disesuaikan?”

Namun ternyata menurut ibu saya, saya ini sombong dan angkuh. Baru di awal kok sudah berani-beraninya minta ganti jadwal? Lha ya memang pada hari tersebut saya sudah ada agenda, njuk piye? Ya bisa sih nekat berangkat, tapi nanti yang repot ujung-ujungnya saya juga yang repot harus menyiapkan back-up plan buat semua agenda saya. Ahelah, seberapa penting sih agenda elu Gen? Mungkin nggak penting buat lu atau ibu gue, but that’s how I maintain my integrity. Walking my talk.

Menurut saya ketika suatu instansi melakukan rekrutmen mereka punya pilihan mau mengundangku wawancara atau tidak, sudah diundang sudah wawancara akhirnya mau memberi kesempatan atau tidak. Begitupun sebagai bakal calon karyawan kita punya pilihan yang setara. Ketika diundang, kita punya pilihan mau datang atau tidak, jika pada akhirnya kita diterima kita juga punya pilihan mau mengambil kesempatan tersebut atau tidak. And I tell you this, menolak datang wawancara itu tidak lebih hina daripada datang wawancara. It is just the same.

Untuk kita yang sedari brojol dibentuk dan dibiasakan untuk selalu menjadi masyarakat ‘kelas dua,’ cara berpikir seperti ini bisa jadi agak ekstrim.

Mau nggak mau saya melihat perjalanan saya sendiri sih. Nampaknya dari saya bayi saya dibentuk untuk selalu menjadi ‘second class’ individu. Seorang yang selalu harus membungkuk, dan mendahulukan kebutuhan dan keinginan orang lain hampir dalam segala aspek kehidupan.

Dari bayi sampai sebelum masuk sekolah saya WAJIB mematuhi omongan dan petuah dari orang tua saya, yang sesungguhnya nggak 100% benar atau cocok untuk saya. Tapi karena nggak berdaya, plus ditakut-takutin kalo ngelawan orang tua nanti bakal dosa dan masuk neraka, jadilah saya lakuin aja apa yang dibilang orang tua saya. Ya abis kalo nggak dilakuin uang jajan saya dipotong.

Mulai masuk sekolah (TK sampai SMA), bertambahlah ‘Tuan’ saya. Selain orang tua ada guru di sekolah yang dalam pandangan masyarakat punya kebenaran mutlak tentang nilai dan pedoman hidup. Apa yang diajarkan, disarankan, dan diminta guru wajib dipenuhi dan dilakukan. Kalau nggak, ya siap-siap aja dicap anak nakal.

Saya mulai mengalami masa pencerahan ketika kuliah. Nggak ngerti kenapa, tapi di masa perkuliahanlah saya sedikit-sedikit belajar tentang konsep kesetaraan. Bahwa setiap individu memiliki pilihan-pilihan yang setara terhadap suatu hal. Dan satu pilihan tidak lebih hina daripada pilihan yang lain. Semua adalah sama.

Dari sini, saya mulai berani bersikap jujur dalam mengambil pilihan. Misal, ketika saya memang tidak ingin datang ke suatu acara ya saya akan menolak walaupun diundang. Walaupun yang mengundang adalah bos saya.

You may deal with powerful people who has big power over companies and worldwide influence, but remember folks the most powerful party for you is you yourself. Never put anybody else in charge for that position.

 

Kecup mesra,
Mbak-mbak yang berjuang untuk selalu menjadi pribadi yang merdeka

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *