The Leftovers

Wanita dan usianya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya. Ketika membahas seorang wanita, selain deskripsi mengenai bentuk fisik dan perangainya, pembahasan usia adalah salah satu hal yang utama. Setelah menemukan usianya, orang-orang kemudian akan membahas apa saja pencapaian yang telah ia raih. Tapi sebenarnya pembahasan mengenai hal itu adalah kamuflase saja, karena dari sana, mereka akan mulai menggiring pembahasan tentang status pernikahannya. Apakah wanita itu sudah menikah atau masih melajang. Orang-orang akan semakin merasa kagum pada pencapaian seorang wanita ketika ia sudah menikah. Namun tiba-tiba kekaguman mereka akan lenyap ketika menemukan si wanita, dengan prestasi yang menggunung, masih melajang.  Sehingga selain pada usianya, wanita juga akan selalu terikat dengan status pernikahannya.

Di tengah masyarakat, ada batasan maksimal usia tertentu di mana wanita seharusnya sudah menikah. Entah siapa yang menentukan target itu, tapi karena sudah menjadi bagian dari masyarakat begitu lama, hal itu kemudian menjadi sebuah budaya yang menuntut untuk dituruti. Sebagian wanita yang telah mencapai batasan usia itu kemudian berlomba-lomba mencari pasangan untuk menikah—untuk mengejar target. Bagi sebagian wanita itu, pernikahan kemudian menjadi sebuah tujuan agar mereka diterima di masyarakat.

Di dalam drama Korea yang berjudul “Because This is My First Life”, ada sebuah adegan di mana tokoh utama, yang seorang wanita, bertanya pada teman wanitanya mengenai alasan apa yang membuatnya ingin menikah. Pada saat itu, mereka berdua berbicara sambil menatap ke arah sebuah etalase toko yang menampilkan dua buah patung manequin yang mengenakan mantel merah dan mantel hitam. Teman si tokoh utama ini menjawab,

“Kau tahu ini, kan? Aku dari kecil tidak pernah pakai baju warna hitam. Pakaianku selalu warna merah, merah muda dan kuning. Tapi saat aku membuka lemariku sekarang, aku hanya memilih pakaian yang warnanya tidak mencolok. Warnanya sesuai dengan lainnya dan tidak kelihatan mewah. Karena itu aku suka warna-warna hitam sekarang.

Kau tahu, ada teman Ibuku yang bekerja sebagai ketua tim di perusahaan asuransi. Dia sangat bugar karena dia bekerja dan menjaga pola makanannya, tidak ada keriput di wajahnya. Ia juga mendapatkan gaji yang banyak. Dia selalu mentraktir makanan untuk Ibuku dan teman-temannya. Wanita-wanita lain iri padanya karena dia sangat keren. Tapi, setiap kali Ibuku dan teman-temannya pergi ke suatu tempat, wanita itu selalu ditinggalkan. Wanita itu bermantel merah. Dia tidak bisa menikah karena terlalu sibuk bekerja.

Aku ingin menikah karena aku hanya ingin menjalani kehidupan biasa seperti orang lain. Punya suami dan punya anak, seperti itulah. Aku juga ingin menceritakan ke teman-teman tentang mertua dan rasanya membesarkan anak. Aku juga ingin pakai mantel hitam yang bisa cocok di mana-mana. Aku ingin menjadi seperti orang lain yang tidak menonjol. Bagiku pernikahan adalah suatu hal yang membuktikan kalau aku baik-baik saja, dan aku wanita sejati. Pernikahan itu seperti mantel hitam itu.”

Alasan yang diutarakan teman si tokoh utama itu tidak perlu diberi label benar atau salah, karena setiap orang berhak untuk mempunyai alasan mereka tersendiri dalam melakukan sebuah hal. Namun ketika mendengarnya, entah kenapa ada rasa prihatin yang muncul. Sejak kapan kita mulai malu untuk memakai warna yang berbeda?

Selain mereka, ada sebagian wanita yang menikah di usia tertentu karena memang hal itu adalah keputusan mereka sendiri dan bukan oleh tuntutan orang lain atau agar menjadi bagian dari masyarakat pada umumnya.

Lalu ada sebagian wanita lainnya lagi, yang meskipun usia mereka telah melampaui batas maksimal yang secara tidak resmi ditentukan oleh masyarakat itu, memutuskan untuk belum atau tidak menikah. Mereka ini adalah sisa-sisa wanita dari mereka yang telah menikah ‘tepat waktu’. Mereka ini adalah si ‘mantel merah’. Masyarakat tidak akan mau mendengar apapun alasan yang coba mereka kemukakan, karena mendengarkan dan mencoba memahaminya kemudian itu memang sulit. Yang mudah adalah membuat asumsi bahwa wanita-wanita sisa itu mungkin tidak laku, terlalu pemilih, atau tidak ‘normal’. Kenapa kita kemudian menjadi tidak sopan pada wanita-wanita ini hanya karena mereka tidak melakukan hal-hal yang sama dengan orang kebanyakan? Kenapa rasanya menjadi lumrah untuk menyakiti mereka dengan mengolok-olok keputusannya yang tidak sama dengan kita?

Bagi sebagian wanita yang tidak atau belum menikah itu, pernikahan adalah pilihan mereka dan pasangannya sendiri. Keputusan yang mereka ambil nantinya adalah murni dari kesadaran sendiri dan bukan demi memenuhi tuntutan orang lain. Mungkin sekarang mereka masih belum siap, mungkin masih ada cita-cita yang ingin mereka raih tanpa adanya ikatan pernikahan di antaranya, atau mungkin karena mereka merasa tanpa pernikahan pun, mereka tetap bahagia dan merasa cukup. Akan ada lebih banyak alasan di luar sana ketika setiap wanita ini memiliki sudut pandang dan latar belakang yang berbeda. Tapi mereka tidak perlu merasa dikasihani, mereka hanya perlu dihargai keputusannya.

Bahkan dunia mungkin akan melihat wanita-wanita ini dengan cara yang berbeda, tapi apalagi yang lebih menyedihkan dari pada hidup hanya untuk menyenangkan orang lain?

.

.

.

My very first formal writing in 2019. Please look forward to what’s about to come. Thank you for reading.

credit picture:

Cheers,

.kurntia.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *