Patah Hati Tak Melulu Soal Cinta

Dalam deskripsi umum melalui Wikipedia, patah hati adalah suatu metafora umum yang digunakan untuk menjelaskan sakit emosional atau penderitaan mendalam yang dirasakan seseorang. Patah hati identik dengan emosi yang dirasakan oleh mereka yang baru saja mengalami putus hubungan atau ditolak cintanya oleh si gebetan. Tapi ternyata, patah hati tak melulu soal cinta dan endesbre-endesbre-nya. Berikut ini adalah beberapa alasan orang-orang mengalami patah hati berdasarkan hasil pengalaman pribadi penulis dan pengamatan pada alam sekitar.

Lamaran Kerja Ditolak

“When you try you best but you don’t succeed.” Penggalan lirik lagu “Fix You” dari Coldplay ini nampaknya syahdu sekali untuk menjadi latar belakang musik pada alasan patah hati yang pertama ini. Persoalannya masih saudara sepupu aja dengan penolakan, bedanya kalau yang ini tentang urusan pekerjaan. Semasa kuliah, mungkin kamu sudah membayangkan setelah lulus nanti mau melamar kerja di mana atau di perusahaan apa.

Setiap orang pasti punya perusahaan atau tempat kerja impian. Tapi memang apa yang dibayangkan dan kenyataan kadang nggak jodoh. Contohnya kamu kuliah jurusan sastra tapi maunya kerja di NASA. Yo ngasi entek kertas HVS sak rim, surat lamaranmu ra bakal digagas. Itu adalah salah satu contoh ngawur, tapi rasa patah hati karena tidak diterima di perusahaan impian itu memang nyata adanya. Lihat saja yang kemarin sudah ndakik-ndakik melamar kerja menjadi PNS tapi ternyata tidak diterima, mereka pasti mengalami rasa sakit itu. Maka yang bisa dilakukan untuk meredam rasa patah hati karena lamaran kerja ditolak atau tidak berhasil bekerja di perusahaan impian adalah berusaha untuk ikhlas. Selalu percaya bahwa rezeki dari langit tidak hanya turun di NASA atau lembaga milik negara. Kamu bisa memimpikan harapan baru dan mencoba lagi kapan saja.

Dilaknat Orang Tua

Nah, alasan patah hati selain karena cinta yang kedua datang dari orang tua. Yang ini juga masih adik kakak sama persoalan penolakan, kali ini adalah penolakan oleh orang tua terhadap cita-cita dan impian anaknya. Sejak kecil bahkan sedari dalam kandungan, kita selalu diajarkan bahwa restu orang tua adalah yang utama. Surga aja ada di telapak kaki Ibu, jadi siap-siap ditendang kalau berani durhaka sama beliau. Oleh karena itu, sebelum melakukan apapun atau mengambil keputusan, biasanya kita akan meminta pendapat sekaligus meminta izin orang tua. Masalahnya, tidak semua yang kita impikan atau cita-citakan itu akan mendapat restu dari orang tua.

Mak, aku udah capek kerja. Aku mau jadi Superman aja.”

“Sopo? Suparman? Sik bojone loro kae? Lha kok bojo loro, siji wae koe urung oleh to le, le.”

Adalah contoh percakapan ngawur Lele dengan emaknya. Atau, contoh ngawur lainnya.

“Pak, aku hari ini udah berhenti kerja. Aku mau jadi wirausaha aja.”

“Udah enak-enak kerja malah mau jadi pengangguran. Nggak sayang orang tua kamu?”

“O..o..okay..”

Setiap orang tua tentu saja menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi definisi yang terbaik antara orang tua dan anak terkadang berbeda. Bagi beberapa orang tua, hidup mapan dengan pekerjaan tetap—kantoran, gaji di atas UMR dan jaminan uang pensiun adalah impian wajib yang harus dimiliki oleh anak-anaknya. Selain agar masa depan cerah—sampai silau kalau bisa, orang tua juga berharap anak-anak mereka dapat mengangkat status sosial keluarga mereka di tengah masyarakat. Sementara si anak ini memiliki passion tersendiri yang kadang-kadang nama pekerjaannya aja udah suram apalagi masa depan. Bukannya mereka tidak ingin membahagiakan atau setidaknya membanggakan orang tua dengan profesi mereka, tetapi passion dan cita-cita itu keinginan hati. Ketika mendengar penolakan dan restu yang tak kunjung di acc oleh orang tua, rasa patah hati itu muncul dan membuat kita ingin menyerah saja. Rasanya kita telah menjadi durhaka karena tidak menuruti nasihat orang tua agar mencari pekerjaan yang sama seperti orang-orang kebanyakan.

Tapi sebenarnya, laknat orang tua bisa dicegah dan ‘sedikit’ diatasi dengan memberikan pengertian pada mereka. Penulis sendiri masih gagal melakukannya, tapi mari kita terus berusaha untuk meyakinkan mereka.

persoalan dilaknat orang tua ini juga pernah dibahas oleh sobat seperjuangan kita Geny di Generation-gap

Ditinggal Mati Tokoh Fiksi

Patah hati yang ketiga ini bagi beberapa orang akan dianggap sepele. Cuma fiksi dan udah tahu kalau itu fiksi tapi masih merasa sakit hati? Orang-orang dengan selera hiburan yang berbeda dengan kita, akan memiliki pemikiran seperti itu. Maka ya sudah, biarkan saja mereka. Mari berkabung dengan orang-orang yang memiliki selera sama.

Kita absen dulu kira-kira tokoh fiksi siapa saja yang kematiannya sampai meninggalkan rasa patah hati. Ada Severus Snape dari film Harry Potter, Eddard Stark dan serigala-serigalanya dari serial Game of Thrones, Uchiha Itachi dari anime Naruto, Jack Dawson dari film Titanic, dan masih banyak tokoh fiksi terkenal lainnya yang dimatikan oleh pembuatnya. Patah hati yang dirasakan karena kehilangan mereka terasa nyata adanya meskipun mereka hanyalah tokoh fiksi. Selama membaca buku atau menonton film, kita terbawa dalam alur cerita hingga ikut berempati dengan tokoh-tokoh ini. Maka tidak mengherankan jika kematian mereka bisa membuat kita merasa patah hati dan kehilangan.

Untuk mengatasinya ya tentu saja kita harus berpikiran seperti orang-orang yang tidak sama seleranya dengan kita tadi. Kita harus sadar bahwa mereka hanyalah tokoh fiksi. Bersedihlah secukupnya dan lanjut menonton atau membaca seri yang lain lagi. Lalu patah hati lagi, lalu… wes sak polahmu.

Itu tadi adalah beberapa daftar alasan yang membuat kita merasa patah hati selain karena cinta. Ada yang mau menambahkan?

Dengan hati yang sedang disambung kembali,

.kurntia.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *