Bersedihlah

“Ketika mimpimu yang begitu indah, tak pernah terwujud, bersedihlah~
Saat kau berlari mengejar anganmu, dan tak pernah sampai, bersedihlah~
Hmmmmmm…”
Para generasi tuwek pasti sudah tidak asing dengan kutipan lirik lagu ‘Ya Sudahlah’ yang dinyanyikan oleh Bondan Prakosa tersebut. Lagu yang dirilis pada tahun 2010 itu menggambarkan tentang dukungan moral pada mereka yang tengah bersedih dan putus asa agar tidak menyerah dan berusaha untuk bangkit kembali.
Rasa sedih adalah salah satu emosi yang wajar dirasakan oleh setiap manusia. Rasa sedih biasanya akan muncul ketika kita kehilangan sesuatu—seseorang atau ketika kita merasa tidak berdaya karena gagal melakukan sesuatu. Rasa sedih biasanya bersifat sementara, namun durasi untuk setiap individu yang merasakannya akan berbeda.
Bagi beberapa orang, rasa sedih adalah emosi yang tabu untuk diungkapkan bahkan dirasakan. Mereka merasa bahwa menunjukkan kesedihan adalah sesuatu yang memalukan dan tidak perlu. Maka orang-orang tersebut akan cenderung untuk menghindari kesedihan yang mereka rasakan dan menutupinya. Padahal, kesedihan atau rasa sedih yang diabaikan begitu saja justru akan semakin menumpuk dan suatu saat bisa berakibat pada kondisi fisik maupun kejiwaan mereka.
Selanjutnya, perkembangan media sosial yang semakin pesat saat ini juga ikut ambil peran dalam proses bagaimana seseorang menghadapi kesedihan. Bagi orang-orang yang cukup terbuka, mereka akan memposting apa yang mereka rasakan pada status media sosialnya. Sebagian merasa bahwa unggahan status tersebut adalah cara mereka untuk meringankan rasa sedih yang mereka rasakan, dan sebagian lagi melakukannya agar mendapat dukungan moril dari teman-teman terdekat. Namun tidak semua unggahan tersebut akan mendapatkan feedback yang positif atau sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
Apa yang Anda pikirkan hari ini?
[‘Sedih ni, ayam peliharaan aku mati disembelih Bapak buat lauk sarapan’]
Komentar:
Surti : ‘Gitu aja sedih lo!’
Franky : ‘Ga-law!’
Bapak : ‘Sedih tapi kok makannya nambah, Nak?’
Atau…
Upload story Instagram pake background item ditambah gif ‘sound on’ –nyetel lagunya Nike Ardila ‘Tinggalah Aku Sendiri’
Masuklah DM demi menanggapinya:
Robert : ‘Request dong lagu Bang Joni-nya Gotik.’
‘Hei, faqir misquin, lo kira sini radio bisa request-request lagu? Lagi sedih tauk! Huft’
Seperti biasa, kejadian-kejadian di atas adalah contoh ngawur dan hanyalah fiktif belaka.
Tetapi, memang seringnya ketika kita mengungkapkan kesedihan atau orang-orang mengetahui bahwa kita sedang bersedih, mereka akan menanggapinya dengan ‘Jangan bersedih’, ‘Gitu aja sedih’, ‘Sekadar mengingatkan, di luar sana masih lebih banyak yang kurang beruntung dibandingkan sampeyan’, ‘Udah nggak usah dipikirin, lo nggak perlu sedih.’. Bisa jadi, niat orang-orang tersebut adalah untuk menghibur kita, namun kata-kata yang dilontarkan menurut penulis adalah kurang bijaksana.
Setiap orang akan memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan kesedihan. Daya tahan setiap individu atas apa yang mereka rasakan juga akan berbeda. Dengan tidak meremehkan dan menghormati setiap perasaan seseorang adalah hal yang sebaiknya dilakukan.
Bersedihlah. Menangislah. Tidak perlu malu karena merasa sedih. Tidak perlu gengsi karena kita tidak sedang baik-baik saja. Kesedihan adalah hal yang sementara, ia akan berlalu pada saatnya. Kita hanya harus selalu ingat untuk menyudahinya—rasa sedih itu.
.
.
Comments, feedbacks, pisuhan are welcomed!
 
 
Dengan bersedih tapi sedikit,
.kurntia.

sumber:

  • Wikipedia – rasa sedih
  • Alodokter – cara mengusir rasa sedih
     
Please follow and like us:
error

One thought on “Bersedihlah

  1. This work reveals a kind of poetic mood and everyone would easily be
    attracted by it. in April 22, 1560, he said:” Your Majesty, you’re invincible and support the world in awe. Matisse also took over as the king from the Fauvism and was famous inside the art circle.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *