Cinta Yang Egois

Bicara mengenai cinta dan kroni-kroninya itu memang tidak akan pernah ada habisnya. Ada banyak hal yang bisa digali dari tema itu. Mungkin kamu akan butuh beberapa cangkir kopi untuk membicarakan definisinya saja. Karena bagi saya cinta itu absurd, saya percaya bahwa setiap orang akan memiliki definisinya sendiri mengenai hal itu. Maka bicarakan dengan singkat saja bagian definisi itu, tidak perlu diperdebatkan. Hanya pastikan untuk menanyakannya setiap kamu bertemu dengan orang yang berbeda, karena di situ kamu akan menemukan jawaban yang baru.

Cinta pun ada banyak macam-macamnya. Ada cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta pada orang yang tidak bisa kita miliki, dan cinta-cinta-cinta-cinta lainnya. Tapi di sini saya akan berpendapat sedikit mengenai cinta yang sekarang ini sedang banyak dikampanyekan—bukan cinta pada capres dan timsesnya ya, tapi ia adalah cinta pada diri sendiri. Saya menyebutnya cinta yang egois.

Cinta yang egois ini mungkin terdengar wagu. Bagaimana bisa kata cinta dan egois menjadi satu ketika mereka adalah dua hal yang berlawanan? Tapi kalian pasti pernah mendengar magnet. Ada dua hal yang berlawanan dalam sebuah magnet, dan hal itu yang menjadikannya utuh. Begitu pula cinta yang egois ini. Dengannya, kamu akan merangkai kepingan-kepingan dirimu yang berserakan menjadi satu kesatuan yang utuh.

Lirik-lirik lagu, film dan puisi bertemakan cinta selama ini banyak menggambarkan bagaimana sedihnya seseorang ketika kehilangan orang yang dicintainya. Betapa mereka akan merasa hampa, lemah dan terluka ketika orang yang mereka cintai meninggalkan mereka. Meromantisasi ketergantungan kita pada orang lain itu memang menarik. Tapi ada kisah cinta yang lebih menyedihkan daripada hal itu, ada yang lebih meninggalkan luka daripada kehilangan orang yang kita cintai, yaitu kehilangan diri sendiri.

Pernahkah kamu memuji dirimu sendiri setelah kamu sibuk mengagumi orang lain? Pernahkah kamu membiarkan tubuhmu istirahat setelah kamu lelah menina-bobokkan orang lain? Atau pernahkah kamu menepuk pundakmu dan menghibur diri sendiri setelah kamu tanpa henti menyeka air mata orang lain? Kadang kamu berpikir, selama orang lain—orang yang kamu cintai bahagia, maka kamu juga akan merasakannya. Tapi benarkah? Bukankah hal itu terjadi karena kamu sebenarnya bangga pada dirimu sendiri karena telah berhasil membuat ia bahagia? Kita terlalu fokus melakukan banyak hal untuk orang lain, hingga lupa pada diri sendiri.

Membahagiakan orang lain mungkin adalah sesuatu hal yang… menakjubkan. Tapi dalam prosesnya, kamu harus menyerahkan bagian dari dirimu sebagai tumbal. Entah energi fisikmu, energi psikismu, atau mungkin waktumu. Kamu harus mempertaruhkan salah satu dan bahkan ketiganya demi membahagiakan orang lain itu. Padahal terkadang dalam taruhan seperti itu, bahkan setelah kita kehilangan semuanya, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Lalu apa yang tersisa dari kita setelahnya?

Ketika orang-orang menyebut bahwa membahagiakan orang lain adalah hal yang romantis, bagi saya hal itu tragis. Membahagiakan orang lain itu melelahkan dan tidak mungkin untuk dilakukan. Saya akan lebih memilih cinta yang egois. Di mana saya akan merasa cukup dan utuh pada diri saya sendiri sebelum menyiapkan ruang untuk orang lain. Dengan cinta yang egois itu, justru nantinya saya tidak akan merasa kurang dan merampas apapun milik orang lain untuk mengisinya. Karena orang itu bisa saja mengambilnya lagi, lalu bagian dari diri saya itu akan bercelah lagi.

Cintailah dirimu sendiri dengan egois, karena tidak semua orang mampu melakukannya.
 
 
Dengan cinta,
.kurntia.
 

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *