Guilty Pleasure: Keenakan Yang Bikin Bersalah

Pernahkah kalian melakukan hal-hal yang sebenarnya menyenangkan tapi malu untuk mengakuinya—atau menimbulkan rasa bersalah setelah kalian melakukannya? Barangkali hal itu adalah salah satu definisi sederhana dari istilah ‘guilty pleasure’, yang secara harfiah ‘kesenangan bersalah’ (correct me if you have better translation). Dalam praktiknya, ada banyak contoh-contoh guilty pleasures di sekitar kita. Yang akan aku bahas di sini adalah guilty pleasures-ku secara pribadi, kalau mau bahas punya kalian, sila bikin artikel aja sendiri— wqwq digampar.

Segelas Kopi Dahulu, Perut Melilit Kemudian

Kesenangan pertama yang membuat aku menyesal dan merasa bersalah pada diri sendiri adalah minum kopi sebelum sarapan—atau sebelum makan apapun. Sudah menjadi rahasia umum, kalau aku adalah penggemar kopi. Gile—dari nama blog ini aja dah kelihatan, kan? Meski seringnya minum kopi sachetan sih—teehee. Sayangnya, sejak SMA kemudian berlanjut selama masa kejayaan menjadi anak kos, aku beberapa kali terserang penyakit maag. Penyakit rang mesken ya, kan? Dulu awalnya, aku kira penyakit maag itu disebabkan karena telat makan dan polanya yang tidak teratur. Lalu setelah aku cari tahu, ternyata hal itu hanya berperan sedikit persen saja, sisa banyak persennya adalah karena apa yang kita makan. Jajan sembarangan, makan-makanan pedas dan berkafein rupanya cukup ulung untuk memancing penyakit maag-ku kambuh. Sering tak titeni, setiap aku minum kopi tanpa sarapan sebelumnya, kemudian aku merasa hebat karena baik-baik saja dan mengulangi kebiasaan itu selama minimal seminggu saja, tubuh wanita kuat ini akhirnya tumbang juga. Pada saat itulah, baru rasa menyesal dan bersalah datang bertubi-tubi.

Tidak Takut Gendut, Karena Banyak Temannya

Moto hidup seperti itu tidak ada salahnya—menurutku! Sekarang pun kalau ada yang mengolok-olok bentuk tubuhmu bisa masuk penjara karena ada Undang-Undangnya. Tiati kau! Aku pribadi pun sebenarnya menjunjung tinggi moto hidup tersebut. My body is mine and I can do anything to it without your consent and affirmation. Aku tidak pernah mempermasalahkan ukuran tubuh seseorang—diriku sendiri juga. Mau dia kurus, dia langsing, dia gendut, karepmu! Aku sendiri adalah orang yang suka makan. Makanan dan aktivitas memamah biak adalah guilty pleasures­-ku yang kedua. Tidak ada yang menandingi rasa cintaku pada makanan. Tapi memang tidak semua rasa cinta itu berakhir indah, ya kan? Apalagi pada people you can’t have. Rasa cintaku pada makanan rupanya harus dibayar dengan berat badan yang semakin naik-naik ke puncak gunung (you sing, you loose). Ditambah dengan kemalasanku untuk berolahraga, maka keduanya berduet maut untuk menciptakan masterpiece berupa body yang ginuk-ginuk ini. Aku akan sering khilaf ketika makan, lalu merasa bersalah ketika kekenyangan dan tidak bisa—tidak mau berbuat apa-apa setelahnya. Aku mulai merasa krenggosan walau hanya menaiki tiga anak tangga saja. “Gendut is okay, but being healthy is a must!”—kataku sambil mamam gorengan dan nyender di kasur.

Dangdut is The Music of My Country

Ha’e ha’e! Hokya! Wait—ini sebenarnya jatilan atau dangdut. Lagu dangdut yang identik dengan lagunya para rakyat jelata sepertinya sedang naik tahta. Lagu dangdut juga masuk ke dalam daftar guilty pleasures-ku yang ketiga. Kenapa? Ya sabar, aku bilangin sebentar. Teman-teman dekatku biasanya sudah tahu. Jadi dulu masa SMP, SMA dan Kuliah, aku pernah mengalami yang namanya fobia dangdut. Ya emang ada? Lha iki! Tiap ada lagu dangdut dimainkan, di manapun, aku akan berusaha kabur jika memungkinkan. Jika tidak, aku akan menahannya sebelum mual-mual—dan pernah juga sampai akhirnya beneran muntah di rumah. Entah bagaimana aku bisa se-anti itu sama lagu dangdut. Kapan-kapan aku bikin artikel sendiri ya—idih. Nah, di masa akhir kuliah sampai sekarang, aku mulai baik-baik aja—mungkin juga udah suka sama lagu dangdut. Efek mual, gilo, dan pusing ketika mendengar dangdut sudah tidak terjadi lagi. Tapi, yang menjadikannya guilty di sini adalah karena aku masih malu mengakuinya pada khalayak umum. Mending mati daripada bilang aku suka dangdut kan? Ya tapi, ya tapi, dalam hati menikmati, gimana dong. Wkwkwk cukup sekian ya, saya yakin guilty pleasure yang ketiga ini akan menggegerkan dunia persilatan.

Nah, kira-kira guilty pleasures kalian apa?

.kurntia.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *