Ketika Pertanyaan ‘Kapan punya anak?’ Sama Menyebalkannya dengan Pertanyaan ‘Kapan nikah?’

Tulisan ini adalah sebuah tribute untuk saudari dan saudaraku di luar sana, yang telah lulus dari pertanyaan ‘Kapan nikah?’ tapi kemudian harus memasuki babak peperangan baru berupa pertanyaan lain yang tak kalah menyebalkan, yaitu ‘Udah isi belum?’ atau ‘Kapan punya anak?’.

Di dalam kehidupan yang konon fana ini, beberapa manusia telah terbiasa didoktrin dengan ilusi mengenai cara menjalani kehidupan yang ideal dan podho kancane. Bagi mereka, rentetan hidup yang ideal adalah lahir—tumbuh—sekolah—menjadi kaya—menikah—punya anak—membesarkan anak—lalu mati. Kadang ada yang berhasil menjalaninya sesuai rentetan itu tanpa cela, tapi kadang ada juga yang harus melompati beberapa bagian sebelum mencapai akhir.

Ketika si pengabdi kehidupan ideal ini merasa hidup mereka sudah sempurna dan sesuai dengan kaidahnya, mereka mulai memunculkan agresi-agresi pertanyaan yang menyakitkan hati—khususnya bagi mereka yang masih berjuang dalam perang gerilya yang tak diketahui orang lain.

Serangan bagi mereka yang masih lajang adalah dengan pertanyaan ‘Kapan nikah?’. Kita tentu sudah muak dengan pembahasan mengenai perang yang biasanya meletus pada momen kumpul keluarga saat lebaran ini. Sudah ndak usah dibahas ya, strategi melawan serangan ini sudah bejibun di luar sana. Tinggal pilih mau pakai sianida atau antasida untuk menumbangkan lawan. Hwe!

Kemudian, setelah berhasil menyingkirkan pertanyaan mengenai pernikahan, muncul penindas baru berupa pertanyaan mengenai ‘Kapan punya anak?’ atau ‘Udah isi belum?’ yang lagi-lagi dilontarkan oleh para pengabdi kehidupan ideal tadi. Mungkin bagi mereka rasanya ngganjel ketika melihat pasangan yang baru menikah lalu tak kunjung punya anak. Padahal bisa jadi karena mereka tidak ingin punya anak atau se-sederhana karena memang belum diberi oleh Tuhan. Mereka mulai membandingkan dengan pencapaian mereka sendiri yang pada H+7 dari hari pernikahan saja sudah langsung dinyatakan positif hamil. Kok iso ra podho ngono, lho! Hla rumangsane!

Sayangnya, kebanyakan target dari perburuan pertanyaan oleh orang-orang itu adalah si perempuan atau istri. Seolah para perempuan ini bisa bereproduksi sendiri dengan membelah diri. Engkau pikir kami ini amuba, wahai manusia, hm? hm? Para istri ini menjadi sasaran empuk untuk ditimpali beban pikiran dari pertanyaan tersebut. Mereka akan menjadi pihak yang disudutkan dan disalahkan ketika kehamilan tak kunjung tiba, hanya karena mereka yang memiliki rahim dan  mengandung janin nantinya. Sungguh menggemaskan! Mungkin orang-orang ini dulu suka ngumpet di kantin atau sibuk ngowoh pas pelajaran biologi yang menjelaskan proses reproduksi manusia. It takes two to tango dan begitu juga dengan kehamilan dan punya anak ya, Bu-Ibu dan Pak-Bapak! Kan bikinnya berdua, ya jangan salahin pihak perempuannya saja, atau lebih baik diam dan tidak usah menyalahkan siapa-siapa, ok?

Tak cukup dengan menyalahkan pihak perempuan atau istri saja, mereka juga akan memberikan tips dan trik menyenangkan untuk membuat anak—tanpa diminta. Isinya bisa dalam bentuk resep racikan jamu, ramuan dukun, rakitan bom hingga berbagai posisi yang greng. Dengan catatan, tips dan trik tersebut tidak bergaransi, tidak dijamin keberhasilannya, dan resiko ditanggung penumpang. Nah ini sebenarnya mau bikin anak beneran apa adonan bakwan, segala ada resep cara bikinnya, padahal dia bukan Tuhan.

Sebuah prasangka positif untuk orang-orang ini adalah mungkin mereka benar-benar peduli dan perhatian. Tetapi hal tersebut seharusnya tidak menjadikan mereka seolah memiliki hak untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan tidak sopan dan menyakiti hati. Bisa jadi, tanpa mereka ketahui, para istri dan pasangannya itu sudah mengerahkan berbagai gaya dan upaya untuk memiliki seorang anak. Tapi tetap saja hasilnya nanti sudah di luar kuasa mereka dan hal itulah yang seharusnya digarisbawahi. Karena ketika kalian menghakimi seseorang atau pasangan karena belum juga dikaruniai buah hati, sama saja kalian sedang mengolok ketetapan Tuhan. Koe ki sopo lho, wey!

Dan untuk saudari dan saudaraku, siapa pun kalian, yang tengah berjuang di luar sana, untuk menunggu pasangan atau pun si buah hati, kalian luar biasaaaaaaa~

Percayalah, ideal atau tidaknya kehidupan yang kalian jalani saat ini, hanya kalian sendiri yang berhak untuk menilainya. Ndak perlu dengerin omongan orang yang menyakiti hati, mereka-mereka ini kadang hanya sekadar menyalurkan hobi (re: bachot) dan belum pasti tilik bayi.

.kurntia.

Please follow and like us:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *